Agama bagi saya

Kurang lebih sebulan yang lalu, seseorang bertanya disebuah forum, “Mengapa orang perlu agama?”.

Saya tertarik untuk memikirkannya, mengapa saya butuh agama. Saya pikir-pikir untuk beberapa saat sebelum saya memberikan jawaban berdasarkan apa yang saya rasakan.

Saya jawab: “Saya butuh agama ini untuk 3 hal besar. Pertama, sebagai landasan kebenaran dan kesalahan, timbangan keadilan. Agama ini memberikan keadilan yang utuh, tidak memihak pada apapun dan bersumber dari Dzat pencipta seluruh mahkluk. Kalau aturan itu untuk manusia, pastilah memerlukan revisi yang banyak sekali, contohnya jelas: undang-undang dasar. Kedua, saya butuh agama ini untuk pedoman melakukan sesuatu. Ambil contoh Amir Muhaddith atau dikenal dengan Loon, teman satu grup P.Diddy yang menjelaskan betapa bingungnya ia tak mengenal agama. Loon berkata, “Saya bahkan tak tahu apa yang harus saya lakukan ketika ingin tidur dan ketika bermimpi buruk. Umat islam diajarkan berdoa dan kalian seharusnya memberitahukan hal ini kepada kami”. Dan yang ketiga, agama ini tempat kita meminta tolong. Saya percaya dalam periode kehidupan ini akan ada masa-masa dimana Allah tetapkan ujian untuk kita, Allah pojokkan kita sampai satu titik dimana yang tersisa saat itu hanya kita dan Allah. Dalam Al-quran, Allah ceritakan situasi ini seperti kapal yang terapung, hingga orang-orang didalam kapal tersebut-pun mengangkat tangan. Kita akan sampai pada titik itu, titik dimana Allah ingin kita kembali kepada-Nya.

Saya mengakhiri jawaban saya. Walaupun ini tidak menjawab secara sempurna karena agama adalah segala-galanya, namun saya berharap jawaban itu bisa membangunkan jiwa-jiwa yang terlena.

Saya pernah melalui periode dimana agama ini adalah aksesoris semata tanpa ruh dan semangat iman. Namun setiap kali saya menjauh, Allah selalu mengingatkan saya kembali. Pernah suatu kali, saya tinggalkan sholat karena ingin bermain diluar. Sebelum keluar, ibu saya bertanya, “Udah sholat belum?”. “Sudah!” dan saya melipir keluar rumah. Tidak sampai 5 menit ketika berlari-lari, Allah takdirkan saya menabrak sebuah pohon ketika berlari. Saya teringat dengan kebohongan saya dan kembali ke rumah. Saya pun sholat.

Mungkin sebagian teguran Allah terasa kejam dan menyakitkan. Tapi jika telah kembali ke Allah dan mengetahui bahwa Allah bisa segala-galanya, maka peristiwa yang menyakitkan terlihat sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita.

Percaya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s