Kami butuh Keamanan bukan Pengaman

Orang tidak butuh terhadap bor 1/4 inchi, yang orang butuhkan adalah sebuah lubang sebesar 1/4 inchi.

Theodore Levitt.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pukul 11.00 malam dini hari tiba-tiba saja sebuah speaker besar menyala dari seberang jalan rumah saya. Sebuah lagu dangdut menggema dengan kerasnya dan membuat saya dan istri saya terbangun. Saya kaget dan mencari-cari sumber suara tersebut. Ada suara seorang perempuan bernyanyi mengikuti alunan irama dangdut tersebut persis seperti sebuah acara orgen tunggal. Setelah beberapa saat saya dengarkan, ternyata beberapa pemuda di perumahan depan sedang menyewa pengamen jalanan yang membawa satu speaker besar. Mereka membayar pengamen tersebut untuk membawakan beberapa lagu dangdut. Sesekali saya dengan mereka berteriak-teriak, bernyanyi-nyanyi dan saling tertawa dengan kerasnya tanpa rasa peduli.

Malam itu tidur saya terganggu. Istri saya juga ikut resah karena bisingnya suara dangdut tersebut. Ibrohim, anak saya mulai berguling-guling tidurnya tanda sudah resah. Saya kemudian keluar, dan memutuskan untuk melakukan sesuatu. Saya pencet “101” dan nada tersambung. Kepolisian yang menjawab diujung sana.

Saya katakan, “saya warga di Jakarta Selatan yang terganggu dengan adanya suara yang begitu ramai di luar, boleh jadi mereka sadarkan diri atau mabuk. Apakah kami bisa dibantu untuk ditertibkan”?

Seorang polisi menjawab diujung telefon, “Bapak sudah lapor Pak RT belom?”.

Saya jawab “Belum pak, saya langsung telfon bapak karena ini gangguan ketertiban”.

Lalu Pak Polisi kembali menjawab, “Bapak lapor Pak RT dahulu, jika sudah biar Pak RT yang melapor kepada saya”.

Jujur, saya kesal mendengar jawaban pak Polisi tersebut. Malam itu saya tidak bisa tidur sampai suara tersebut berhenti. Kalau boleh jujur, saya tidak butuh pak polisi yang saya butuhkan adalah sebuah kenyamanan.

Beranjak dari cerita malam tersebut, seorang teman kantor saya baru-baru ini berkata kepada saya “Untung ada FPI ya, sekarang geng-geng motor udah mulai jera”. Lalu saya katakan kepada teman kantor saya, “FPI hanya beruntung. Seharusnya bukan FPI yang kita sebut-sebut dan elukan tetapi Pak Polisi. Namun pengalaman berbicara bahwa Pak Polisi ini panjang birokrasinya dan lambat responnya. Ancaman dan gangguan terjadi dalam waktu yang singkat sehingga membutuhkan respon yang cepat. Karena Pak Polisi gagal menangkap momen itu, maka FPI yang mengambil alih.

Saat ini isu Persekusi merebak dan Pemerintah dituntut untuk menindak siapapun yang melakukan tindakan pemaksaan. Pertanyaan besar bagi kita semua ialah mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa ada kumpulan orang melakukan tindakan terhadap individu-individu tertentu tanpa melibatkan kepolisian? Bukankan ini pekerjaan utama dari Kepolisian yang memiliki slogan “Melayani dan Melindungi”? Saya percaya bahwa persekusi ini adalah tindakan non-value added karena membuang waktu masyarakat yang seharusnya dapat digunakan dengan kegiatan yang bermanfaat serta duplikasi karena aktivitas ini sudah ada pada Kepolisian. Menambahkan aktivitas ini sama saja menambahkan aktivitas yang sudah ada. Kini kita paham bahwasanya persekusi ini adalah sesuatu yang tidak kita perlukan sehingga menjadi pertanyaan kita saat ini adalah mengapa persekusi ini sampai ada?

Terlepas dari pro dan kontra organisasi masyarakat yang melakukan tindakan-tindakan tertentu tersebut, dari sini kita pahami bahwa apa yang dikatakan oleh Theodore Levitt adalah benar adanya. Orang tak membutuhkan sebuah bor, yang orang butuhkan adalah sebuah lubang. Masyarakat tidak membutuhkan adanya pengamanan, tetapi yang masyarakat butuhkan adalah kenyamanan. Dalam bahasa ekonomi, adanya peningkatan permintaan terhadap rasa aman membuat kurva permintaan terbentuk sehingga terjadilah sebuah fenomena penawaran rasa aman. Itu sebabnya kita lihat akhir-akhir ini banyak organisasi masyarakat membentuk sebuah keamanan sendiri, contohnya FPI dan Para Ojek Online. Para ojek online (gabungan Gojek, Uber dan Grab) pun kini bersatu membuat sebuah satuan keamanan khusus yang bertugas untuk melindungi ojek online dari ancaman dan gangguan pihak luar. Misalnya jika salah seorang ojek online diminta pelanggan untuk mengantar ke sebuah tempat yang berbahaya, maka mereka dapat menghubungi satuan khusus ini dan mereka akan mendapatkan pengamanan dari ojek lainnya untuk mengantar penumpang ke daerah yang berbahaya tersebut secara cuma-cuma.

Ini mungkin menjadi bahan evaluasi bagi pihak kepolisian sebagai pihak produsen utama dibawah mandat pemerintah untuk memberikan sebuah produk “keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat”. Saya kira kita semua sepakat bahwa kita tidak perlu membuat satuan-satuan yang tak perlu jika Kepolisian kita bisa bertindak cepat dan tepat untuk melayani dan memberikan kenyamanan untuk masyarakat. Jika tidak, maka permintaan itu selalu ada (-bahkan menjadi permintaan pada tahap kebutuhan dasar jika merunut diagaram Maslow) dan seseorang akan selalu siap untuk mengambil alih permintaan itu dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s