Memahami Tujuan Besar

Finding your purpose isn’t enough. The challenge for our generation is creating a world where everyone has a sense of purpose

Kalimat diatas diucapkan oleh  Mark Zuckerberg dalam pidato-nya di Harvard tanggal 25 May 2017 lalu. Dalam pidatonya tersebut Mark membawa kisah tentang Presiden Kennedy dan seorang Janitor di Nasa ketika Presiden Kennedy melawat ke kantor NASA. Ketika itu Presiden Kennedy berpapasan dengan seorang Janitor yang membawa sapu. Pres. Kennedy menghampir orang tersebut dan berkata, “Apa yang kamu lakukan disini?”. Janitor tersebut menjawab, “Pak Presiden, saya sedang membantu agar seseorang dapat sampai ke bulan”.

“Pak Presiden, saya sedang membantu agar seseorang dapat sampai ke bulan”.

Memahami tujuan adalah topik utama pembicaraan Mark Zuckerberg kepada angkatan 366 para mahasiswa/i Harvard University hari itu. Tujuan / Purpose menurut definisi Mark ialah a sense that we are part of something bigger than ourselves, that we are needed, that we have something better ahead to work for. Purpose is what creates true happiness.” kata Mark dalam pidato. Saya mengamini dalam-dalam ucapan Mark tersebut.

Tujuan ialah sebuah rasa bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari kita sendiri, yang kita dibutuhkan untuk kita melakukan sesuatu yang lebih baik kedepannya

Tanpa memahami kita adalah bagian besar dari sebuah rencana, rasanya tak mungkin seorang Janitor dapat berkata demikian heroiknya. Alih-alih kita terkesima dengan ucapannya, sering kita temukan banyak orang-orang yang mengambil kesempatan untuk curcol (curhat colongan) kesusahan hidup daripada membicarakan tujuan yang lebih besar. Seperti yang saya tuliskan tentang pengemis disini.

Saya sepakat akan definisi, “tujuan-lah yang membuat kita merasakan bahagia” seperti yang dikatakan oleh Mark. Sepanjang perjalanan pendewasaan diri kita, kita akan temukan berbagai masalah yang menghadapi kita. Mulai dari permasalahan hubungan antara manusia, masalah perkuliahan, masalah rezeki hingga kesehatan yang terus menerus menghantui kita. Tanpa bermental-kan berorientasi tujuan besar, hidup akan terasa tidak adil, masalah menjadi kesusahan, hidup tak pernah terlihat positif dan dampaknya hubungan manusiapun menjadi kian kacau.

Maka jika boleh menyeru-kan hal sama seperti pidato Mark Zukerberg beberapa minggu yang lalu, kiranya belum terlambat untuk kita memahami tujuan kita. Tujuan mengapa kita disini dan bagaimana kita membuat seseorang di luar sana menjadi lebih baik. Memahami tujuan berarti harus berhenti memikirkan diri sendiri dan memulai untuk memikirkan orang lain, memberikan manfaat dan nilai tambah untuk masyarakat serta menciptakan peta masa depan yang lebih baik.

Kita tidak perlu harus membangun sebuah organisasi untuk membuat dunia ini lebih baik. Bayu Gawtama dan tim relawannya memulai dari sebuah mobil yang terparkir dipinggir jalan, lalu mereka membuat sebuah tempat makan prasmanan khusus untuk para anak dan orang tua jalanan. Dan saat ini program tersebut diberinama Free Food Car dan bereplikasi menjadi puluhan mobil independen yang tersebar di seluruh Jabodetabek, berkeliling untuk mencari tempat dimana anak-anak dan orang jalanan sedang kelaparan. Tanpa ikatan apapun, hanya orang-orang yang berniat untuk berkontribusi untuk membuat dunia lebih baik. Seorang penjual mie ayam di Jogja sengaja memarkirkan gerobaknya di pinggir pagar masjid dan diatasnya tergantung papas yang tertulis “Gratis untuk orang-orang yang selesai sholat Jumat”.

Sebungkus nasi yang kita sisihkan untuk orang-orang tak bertempat tinggal dapat menghapuskan dunia ini dari satu masalah kecil. Satu mangkuk mie ayam dapat membuat seorang bahagia, setidaknya satu masalah kecilnya tentang makan apa hari itu terpenuhi. Membuat dunia lebih baik adalah tujuan dan siapapun yang masih memiliki sumber daya, pasti bisa membuat dunia ini menjadi tempat berkontribusi.

Jika tahapan memahami sebuah tujuan ini telah kita lewati, maka tak akan ada lagi yang namanya sebuah pekerjaan kecil. Setiap pekerjaan akan menjadi bermakna, mulai dari para office boy, resepsionis hingga jajaran direktur dan komisaris. Setiap orang memiliki peran mengantar organisasi untuk sampai tujuannya. Untuk itu kita perlu bersatu padu untuk membuat manusia sadar akan sebuah tujuan yang lebih besar. Kita perlu menyadarkan orang-orang untuk menjadi bagian dari solusi kecil masalah, bukan bagian dari masalah itu. Kita perlu memajukan manusia kita menjadi manusia solutif. Hingga suatu hari kita dapat temukan seorang pasukan oranye yang berkata, “Saya disini bekerja untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s